Senin, 20 Mei 2013

Cita-cita sang pemimpi



Cita-Cita Sang Pemimpi
            Cita-cita adalah sebuah tujuan di masa mendatang. Binatang kawin untuk memenuhi kebutuhannya, makan untuk kenyang, beruang makan sekenyang-kenyangnya untuk hibernasi pada musim dingin, seorang ayah bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, atau seorang Profesor menciptakan suatu karya ilmiah untuk kepentingan umat manusia, itu semua merupakan tujuan.
            Namun cita-cita biasanya lebih luas dari sekedar tujuan, karena biasanya mencakup jangka panjang, bukan hanya untuk sementara.
            Dari beberapa contoh tujuan di atas tentu kita bisa memilih mana yang baik, dan mana yang kurang baik, bahkan buruk.
            Sebagai Ciptaan Allah yang paling sempurna, kita dianugerahkan nafsu sebagai hewan, akal sebagai makhluk yang berpikir, dan kita juga dianugerahi hati nurani yang telah terisi penuh oleh potensi-potensi kebaikan. Kemudian kita juga dianugerahi perasaan, khayalan, angan-angan, mimpi dan lain sebagainya sebagai hasil dari interaksi pikiran dan nafsu.
            Gunakanlah semua itu untuk kesuksesan kita di masa mendatang baik sebagai hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada Allah, atau pun sebagai khalifah yang bertugas memakmurkan dunia ini.
            Konseplah cita-cita dengan menggunakan nafsu, namun kendalikan dengan pikiran dan hati nurani, sehingga akan menimbulkan mimpi yang mulia dan luar biasa.
            Kejarlah mimpi itu seperti Arai mengejar Zakia Nurmala dalam film  ‘Sang Pemimpi’, berusahalah seperti Mahar mencari Tuk Bayan Tula dalam film ‘Laskar Pelangi’, atau seperti para pahlawan yang membebaskan negeri ini dari para penjajah atau bahkan seperti Baginda Muhammad menebarkan Islam di permukaan bumi ini.
            Cita-cita adalah sebuah mimpi yang luhur dan bisa membuat hidup lebih berarti, membuat semua perbuatan memiliki nilai karena mempunyai tujuan yang jelas..
            Bermimpilah karena mimpi takkan mengganggu siapa pun, bermimpilah apa pun itu, karena mimpi tak kan bisa dibatasi oleh ruang dan waktu, bermimpilah setinggi dan semustahil mungkin, dan karena kita dan mimpi kita adalah ciptaan Tuhan, maka bermimpilah atas dasar ridha-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar