Minggu, 19 Mei 2013

Tujuan Hidup



Dunia Atau akhirat, Penting mana?
Hasil Kajian Malam KKM UIKA Kelurahan Mulyaharja Bogor selatan
Pemateri:Sukron Ma’mun
Dunia adalah alam dimana manusia tinggal setelah meninggalkan alam rahimnya, sedangkan akhirat adalah alam dimana manusia tinggal setelah meninggalkan alam dunia dan alam barzah. Sebagaimana kita ketahui Manusia mengalami setidaknya 4 (empat) perpindahan alam. Pertama, alam ruh yang dimulai dari diciptakannya ruh manusia sampai ditiupkannya ruh tersebut ke dalam rahim ibu, pada usia kandungan sekitar 4 (empat) bulan. Kedua, alam dunia, yang dimulai dari lahirnya manusia dari rahim ibu, sampai meninggal dunia. Ketiga, alam barzah yang dimulai dari dikuburnya manusia sampai kembali dibangkitkannya di yaumul qiyamah. Keempat adalah alam akhirat, yang dimulai dari dibangkitkannya kembali manusia setelah meninggal.

Dunia adalah alam dimana tempat manusia menanam investasi sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhiratnya. Baik atau pun buruk sekecil apa pun, itu semua akan Allah perlihatkan di akhirat kelak.

Perbedaan yang sangat singnifikan dari kehidupan dunia dan akhirat adalah, terdapatnya aturan hidup di dunia yang tidak akan kita jumpai di akhirat kelak. Hal ini dikarenakan, fitrah manusia yang diberikan dua potensi oleh Allah yaitu potensi kebaikan dan potensi keburukan. Dan adanya kecenderungan nafsu manusia ke arah keburukan. Sehingga Islam diturunkan untuk menjaga fitrah suci manusia supaya tidak terjerumus kepada keburukan.

Islam mengatur semua tatanan kehidupan dari semua sisi. Termasuk Islam juga mengatur bagaimana seharusnya porsi kehidupan dunia dan akhirat.

Sebagaimana do’a yang senantiasa kita ucapkan: “Ya Tuhan kami berikanlah kepada kami kebahagian di dunia dan di akhirat”. Artinya Islam tidak memandang salah satu di antaranya lebih penting dari yang lain.

Namun ternyata fenomena yang terjadi di masyarakat, ada dua golongan besar yang memandang tentang pentingnya kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Satu golongan memandang bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang paling penting sehingga tidak mengapa kita hidup miskin, hidup pas-pasan tanpa andil apa pun di dunia ini, asalkan kehidupan akhirat kita bahagia. Namun ada pula yang berpendapat bahwa meski pun mereka sadar bahwa mereka akan meninggalkan dunia ini, tapi menurut mereka kehidupan dunia adalah segala-galanya.

Dua fenomena dikotomi dunia dan akhirat di atas seharusnya tidak terjadi jika mereka memandang dunia dan akhirat dari semua sisi.

Allah mengingatkan bahwa kita harus mengejar kehidupan akhirat kita, namun kita jangan melupakan kehidupan dunia kita. Dengan demikian kita memang harus mengejar kehidupan akhirat kita, karena mau tidak mau akhirat adalah satu-satunya tempat pulang kita yang bersifat kekal. Namun demikian kita juga harus berkontribusi dan mencari kehidupan dunia kita.

Bayangkan kalau semua orang hanya mengejar kehidupan akhirat. Siapa yang mau membantu mereka yang teraniaya? Siapa yang mau membantu mereka saudar-saudara kita yang kesussahan? Siapa yang mau mengajak teman-teman kita yang lupa untuk kembali ke jalan yang benar? Jangankan kita dapat menolong mereka, mungkin kita sendiri akan terisolasi dari kehidupan kita sendiri.

Coba renungkan kenapa Allah menciptakan manusia harus melewati alam dunia, kalau tujuannya hanya untuk kebahagiaan akhirat (masuk surga)?

Kenapa Allah tidak langsung memasukan kita saja ke dalam Surga? Bukankah tidak ada yang mustahil bagi Allah?

Itu artinya Allah menginginkan kita untuk sedikit saja, kalau tidak mampu banyak, untuk berkontribusi dalam proses pemakmuran alam dunia ini.

Bukankah kita sudah mengetahui bahwa tujuan penciptaan manusia ada dua. Pertama adalah untuk senantiasa beribadah kepada Allah, dan yang kedua adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.

Kedua tugas ini bukanlah pilihan namun keniscayaan. Mau tidak mau kita harus melaksanakan keduanya. Namun apakah kita mampu melaksanakan kedua tugas manusia tersebut? Bagaimana caranya? Jawabannya bisa. Caranya kita harus berusaha sekuat tenaga untuk memakmurkan dunia ini dari aspek apa pun, artinya kita harus mengejar kehidupan dunia kita seolah-olah kita akan hidup selamanya, namun jangan lupa kita harus niatkan karena Allah. Dengan begitu setiap perbuatan kita akan bernilai ibadah di mata Allah. Insya Allah. Karena bukankah kita juga harus mengejar kehidupan akhirat kita seakan-akan kita kan mati besok? Itu dia jawabannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar